Makalah Sejarah Ilmu Al-Mu'jam Wa Shina'at Al-Mu'jam

BAB I
PENDAHULUAN

Para pakar bahasa mengerahkan upaya besar dalam mengumpulkan materi linguistik, dimana mereka menerima dari sumber yang terpercaya dan sebagian besar materi yang diambil dari Alquran, disini bangsa Arab menghadapi masalah dalam memahami kata-kata Alquran, dari sinilah awal mula berdirinya ilmu leksikografi. Bisa dikatakan bahwa leksikografi dimulai pada abad kedua, dan perintis pertamanya Khalil bin Ahmed al-Farahidi, dan kemudian lahirlah setelahnya penerus yang  berupaya utk mereversifikasi ilmu leksikografi sehingga tidak lama kemudian terbentuklah ilmu leksikogrfi sendiri, dan diatur batasan yang memisahkannya dari ilmu-ilmu lain, akan tetapi tidak ada perkembangan, baru Pada abad keenam Zamakhshari mengembangkan jenis kamus yang berbeda, "urutan yang berbeda" Perkembangan ini bertahan sampai suatu periode stagnasi, tetapi bangsa Arab peka dan segera membangun dan berupaya terus untuk menghasilkan karya yang tidak kalah pentingnya dengan karya-karya sebelumnya bahkan lebih Terorganisir dan mudah. 
Para penulis berusaha untuk menjadikan karya mereka karya yang bisa dinikmati banyak orang, dan kamus sebagai salah satu alat pendidikan didasarkan pada dua pilar utama: pendekatan dan definisi bahan yang menjadi dasar inti penelitian ini adalah berdasarkan penelitian lama dan baru, dimana definisi ini dipandang sebagai salah satu pilar yang sangat penting.


BAB II
PEMBAHASAN

1. Latar Belakang Historis
Bahasa biasanya melewati tahap pelafalan sebelum tahap kodifikasi, yaitu pada mulanya hanya dalam bahasa penutur, tidak tercatat dalam buku, dan berapa banyak bahasa yang hidup, tumbuh dan kemudian menghilang sebelum manusia mengetahui tentang penulisan. Sebelum mengenal budaya tulis-menulis seperti sekarang ini, pada awalnya bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi hanya ada dalam bentuk lisan.
Selain sebagai alat berkomunikasi, bahasa juga berfungsi sebagai alat berfikir atau media nalar bagi pemakai bahasa itu sendiri. Perkembangan sebuah bahasa mengikuti perkembangan pemikiran para pengguna bahasa. Sedang manusia, ia tidak akan mampu menghafal dan mengembangkan seluruh kata dari bahasanya sekalipun ia memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi. Oleh sebab itu, terkadang seseorang tidak mampu mengingat sebuah kata atau kesulitan untuk menyebut kosakata yang sesuai dengan yang ia inginkan. 
Bahasa Arab adalah bahasa yang kaya dengan kosakata, kosakata dalam bahasa Arab merangkum semua bidang. Hal ini dapat dilihat berdasarkan kepada kata-kata yang dikodifikasi di dalam kamus-kamus Arab. Dalam bahasa Arab, pembentukan satu kata bisa menunjuk ke beberapa makna. Dikarenakan masalah tersebut yang muncul, kehadiran kamus menjadi sebuah keharusan dalam sebuah bahasa untuk mengembangkan makna, menghimpun kata, melestarikan bahasa, dan mewariskan peradaban yang dapat dikembangkan. Atas dasar itulah manusia menyadari pentingnya bahasa tulis sebagai sarana untuk mengkodifikasi bahasa mereka. Leksikologi yang merupakan ilmu untuk mengetahui makna kata memiliki usia yang sama dengan bahasa yang dilayaninya.
Sebelum era Dinasti Abbasiyah, bangsa Arab terutama umat Islam, belum banyak yang mengenal pentingnya kodifikasi bahasa atau penyusunan kamus-kamus bahasa Arab. Bagaimana kosakata bahasa Arab dikumpulkan oleh bangsa Arab kuno dalam komposisi leksikon Arab meskipun mereka tidak tahu leksikografi sebelum era Abbasiyah, bahkan mereka terlambat dalam kodifikasi bahasa mereka senidiri dibandingkan negara-negara lain seperti Asiria dan Yunani. 
Bangsa Arab tidak mengetahui leksikografi sebelum era Abbasiyah karena beberapa alasan, yang paling penting adalah:
1. Mayoritas bangsa Arab masih ummy (buta huruf) 
2. Bangsa Arab memiliki tradisi nomadisme dan perang 
3. Orang-orang bangsa Arab lebih senang berbahasa lisan daripada tulisan.
Karena alasan-alasan inilah bangsa Arab ketinggalan dalam pengembangan leksikon dibandingkan bangsa bangsa kuno lainya yang lebih dulu mendirikan peradaban di hadapan mereka.Akan tetapi walaupun bangsa Arab tidak mengenal kamus sebelum era Abbasiyah, tidak ada keraguan bahwa pemikiran leksikal telah menjadi jati diri mereka sejak mereka mulai menjelaskan Alquran, dan jika meraka tidak memahami kata kata dalam Alquranmaka kembali ke sastra sastra kuno mereka terutama syi’ir, untuk mengetahui maknanya.

2. Faktor-faktor Kemunculan Ilmu Mu’jam
Tampaknya metode pengumpulan kosakata dan kamus adalah perlunya orang-orang Arab untuk menjelaskan apa yang tidak dimengerti dari kosakata Alquran dan keinginan mereka untuk menjaga buku mereka agar tidak ada kesalahan dalam pelafalan atau pemahaman karana Bahasa Arab merupakan bahasa dengan karakter kaya akan kosakata dan memiliki kesamaan makna pada beberapa kata. Maka dari itu, selain karena kebutuhan terhadap kodifikasi bahasa dalam bentuk tulisan di kalangan bahasa Arab, hal tersebut juga menjadi faktor pendukung bagi bangsa Arab untuk menyusun kamus. Selain itu, terdapat beberapa faktor lain yang mendorong Bangsa Arab menyusun kamus, di antaranya:
1. Kebutuhan bangsa Arab untuk menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an.
2. Keinginan mereka untuk menjaga eksistensi bahasa mereka dalam bentuk bahasa tulis.
3. Banyaknya buku-buku tafsir yang terbit pada masa awal kodifikasi al-Qur’an dan hadits tentang Gharaib (kata-kata asing).
4. Munculnya ilmu-ilmu metodologis pertama dalam Islam.
 
3. Periodisasi Pertumbuhan dan Perkembangan Ilmu Mu’jam
Menurut pendapat Abed al-Jabiri, aktivitas kodifikasi bahasa bukan sekedar “pembukuan” dalam arti pencatatan. Kodifikasi merupakan peralihan bahasa Arab yang tidak ilmiah kepada bahasa ilmiah. Pengumpulan kosakata bahasa dan penetapan cara-cara derivasi dan morfologinya, penetapan kaidah-kaidah struktur serta pemilihan tanda-tanda untuk menghilangkan ketidakjelasan dalam penulisannya, semua itu tidak hanya disebut penciptaan ilmu baru, yakni ilmu bahasa Arab tetapi juga penciptaan bahasa baru yakni bahasa Arab fusha . Proses kodifikasi, pada akhirnya merubah bahasa Arab dari semula yang tidak ilmiah (tidak bisa dipelajari secara ilmiah) menjadi bahasa ilmiah atau bahasa yang tunduk kepada sistem yang juga diikuti oleh banyak ilmuan.
Proses pengumpulan dan kodifikasi bahasa berawal dari kekhawatiran di kalangan bangsa Arab sebagai kaum minoritas akan terjadinya kerusakan bahasa yang dikarenakan menyebarnya dialek yang menyimpang (lahn) dalam masyarakat. Karena terjadinya lahn yang disebabkan oleh terjadinya percampuran antara orang Arab dan non-Arab (mawali) di kota-kota besar semisal Irak dan Syam, maka wajar jika bahasa Arab yang dipandang valid (al-Lughah al-Shahihah) dicari dari orang-orang Badui khususnya dari kabilah-kabilah yang masih terisolir dan masyarakatnya masih memelihara insting dan “kemurnian” pelafalannya. Karena itu, para leksikolog lebih mengarahkan periwayatan bahasa kepada orang Badui.
Penyusunan mu’jam bahasa Arab sebagai karya linguistik yang komprehensif diawali pada abad kedua hijrah. Saat itu, para linguitik Arab mengumpulkan bahasa dari kabilah-kabilah Arab di beberapa daerah. Mulai dari jazirah Arab, kemudian dareah dekat Iraq sampai akhirnya mereka mendapat ilmu bahasa di daerah Bashrah dan Kufah. Di daerah itu, para linguistik mengambil bahasa fusha dan meninggalkan sighat dan lafaz yang tidak fusha. Kabilah-kabilah  yang dekat dari Arab mengadopsi bahasa hingga tergolong ke dalam kategori fusha dan meninggalkan lahjah kabilah yang jauh dari fusha. Bahasa fusha tersebut diambil dari kabilah Qais, Tamim, Asad, Huzail, dan sebagaian kabilah Kinanah dan Tha’i .
Beberapa pengarang Arab mengakui bahwa Mu`jam `Arabi muncul pertama kalinya pada abad ke dua Hijriyah. Hal ini antara lain ditandai dengan kehadiran karya al-Khalil bin Ahmad (w.170 H.). Beliau telah menyusun sebuah kitab yang bernama Kitab al-`Ayn. Kitab tersebut disusunnya dengan kata-kata yang dimulai oleh huruf (ع`Ayn), kemudian setelah abad ke dua hijriyah baru disusun pula berpuluh-puluh kitab mu`jam dengan susunan yang bervariasi . Kitab al-`Ayn yang merupakan nama kamus arab pertama merupakan karya yang lahir dari ijtihad lughawi yang luar biasa karena sistematika penyusunannya berdasarkan makharij al-huruf dari huruf ‘Ain atau artikulasi huruf paling belakang (halq) pada kerongkongan manusia hingga “ya” yang berartikulasi syafawi.
Untuk memudahkan kita melihat dan mengetahui perkembangan mu`jam tersebut, maka Emil Ya`qub telah menuliskannya dalam bukunya sebuah tabel yang cukup menarik tentang tidak kurang dari 20 mu`jam berikut dengan nama pengarangnya serta spesifikasi terpenting dari masing-masing mu`jam tersebut. Di situ terlihat dimulai dengan kitab al-`Ayn karya al-Khalil bin Ahmad sampai dengan kitab AlRa’id karya Jibran Mas`ud . 
Upaya yang dilakukan Al-Khalil tersebut kemudian diteruskan oleh ahli bahasa lainnya seperti Abu ‘Amru (w.206 H.) dengan mu`jamnya Al-Huruf, Ibn Darid (w.321 H.) dengan mu`jamnya Al-Jamharah, Al-Qali (w.356 H.) dengan mu`jamnya Al-Bari`, Ibnu Sa’idah (w. 458 H.) dengan mu`jamnya Al-Mukhassas, dan masih banyak lagi selain mereka, upaya tersebut terus berlanjut hingga ke zaman modern saat ini, sehingga kita dapati bermacam mu`jam telah menghiasi rak-rak yang ada di berbagai perpustakaan kita. Materi-materi yang termuat dalam berbagai mu`jam `arabi saat ini, baik klasik maupun modern umumnya masih tetap dalam keasliannya sebagai bahasa Arab yang diungkapkan orang-orang Arab di era kodivikasi dahulu.
Daerah Syam, Irak, dan Mesir tidak menjadi sasaran para linguistik untuk mengambil bahasa karena di daerah-daerah tersebut bahasa sudah tercampur dengan bahasa lain. Seperti halnya bahasa pada kota Hijaz, kabilah Arab di Yaman, bagian timur jazirah Arab yang juga telah bercampur dengan bahasa Hindi dan Habsyi tidak diadopsi oleh para linguistik Arab .
Ahmad Amin dalam kitabnya Duha al-Islam ,  telah menuturkan ada tiga fase yang telah dilalui dalam pengumpulan bahasa Arab sehingga munculnya kitab mu`jam. Fase pertama adalah fase dimana bahasa dikumpulkan atas dasar kesepakatan, artinya seseorang ulama pergi ke pelosok desa lalu mendengar kata-kata yang berkenaan dengan sesuatu seperti tentang hujan, tentang tanaman, dan lain-lain, kemudian semuanya dicatat sesuai dengan yang didengarnya tanpa urutan tertentu. Fase ke dua adalah fase mengumpulkan kata yang berhubungan dengan topik tertentu lalu dibuat kitab sehingga dikenal adanya kitab al-matar dan kitab al-laban karya Abu Zayd (w.215 H.). Demikian pula kitab al-Ibil, kitab al-Khayl dan kitab Asma’ al-Wuhusy karya al-Asma`i (w.216 H.). Fase ke tiga adalah fase pembuatan al-Mu`jam secara sempurna dengan pola tersendiri yang sistematis, sehingga orang yang ingin meneliti makna sesuatu kata dapat melihat kitab tersebut.
Sejarah pencatatan bahasa dalam tulisan dilanjutkan oleh kemunculan para pakar bahasa yang hidup pada akhir abad kedua dan awal abad ketiga hijriyah. Mereka mulai mengarang karya-karya mereka dan mengumpulkannya dalam sebuah kitab. Sebagian dari karya mereka banyak yang sampai pada saat ini terdapat dalam bentuk tema-tema tertentu dalam bidang bahasa, seperti kitab Shigir fil Ibil, atau risalah Shigir fil Mathar dan sebagainya. Adapun tokoh-tokoh bahasa yang populer pada masa ini di antaranya:
1. Abu Zaid al Anshari (w. 215 h)
2. Al Ashma’iy (w. 210 h)
3. Abu Ubaidah (w. 209 h)
4. Nadha bin Syamil (w. 204 h)
5. Al Yazidiy (w. 202 h)
6. Abu Amr Asy-Syaibaniy (w. 202 h)
Para tokoh tersebut merupakan tokoh-tokoh bahasa kotemporer yang telah berperan besar dalam meriwayatkan kata-kata arab beserta nasnya. Mereka juga telah berusaha untuk mengkodifikasikan kata-kata arab dan menjelaskan dalil-dalilnya, serta mengemukakan pandangan mereka sebagaimana terdapat dalam kitab Tarajim Asma’ serta kitab-kitab lain yang sedikit sekali sampai kepada kita saat ini. Diantara pakar bahasa di atas hanya satu orang yang berasal dari ulama Kufah yaitu Abu Amr asy-Syaibaniy, murid dari Adh Dhabiy yang telah berkontribusi dalam mengumpulkan kata-kata arab dalam sebuah buku yang berjudul “al-Jim”, kitab al-Ibil, dan Khalqu Insan. Di antara kitab-kitab di atas, yang paling populer adalah kitab “al-Jim” dinamakan kitab  “al-Jim” karena karangan tersebut dimulai dengan huruf “Jim”.

4. Metodologi Pembuatan Kamus
Pada awalnya, proses pemaknaan kosakata dalam bahasa Arab dimulai melalui metode pendengaran (al-Sima’i), yaitu pengambilan riwayat oleh para ahli bahasa dengan cara mendengarkan langsung perkataan orang-orang Badui. Selanjutnya, metode pendengaran bergeser ke metode analogi (Qiyas), yaitu pemaknaan kata dengan menggunakan teori-teori tertentu yang dibuat oleh para ahli bahasa. Salah satunya, metode Qiyas ala Khalil yang mengedepankan derivasi kata melalui teknik khusus yang dikenal dengan Taqlibul Kalimah.
Khalil berinteraksi dengan 28 huruf hijaiyah sebagai kumpulan dasar (Majmu’ah as-Ashliyah) yang dari sana dihasilkan setiap percabangan yang terdiri dari dua hingga lima unsur. Kosakata dalam bahasa Arab, menurut metode Khalil, adakalanya terdiri dari dua huruf (Tsuna’i), tiga huruf (Tsulatsi), empat huruf (Ruba’i), dan lima huruf (Khumasi). Di samping itu, ada huruf tambahan yang bisa dibuang dan mengembalikkan kata Mazid (yang berimbuhan) kepada kata Mujarrad (bentuk asli tanpa tambahan). Atas dasar itu, ia mulai menyusun huruf hijaiyah yang satu dengan yang lain menjadi kata yang terdiri dari dua, tiga, empat, atau lima huruf dengan memanfaatkan segala kemungkinan yang ada, misalnya : bada, daba, abada, bada’a, da’aba, dan seterusnya dengan tanpa melakukan pengulangan. Teknik ini yang disebut dengan Taqlib al-Kalimah .
Menurut sejarawan, kemungkinan penyusunan huruf ini (mulai dari dua hingga lima huruf) mencapai 12.305.412 kata atau gabungan huruf. Kemudian Khalil meneliti kata-kata atau gabungan huruf ini. Jika didapati kata itu digunakan (Musta’mal) dalam kenyataan semisal dharaba maka kata itu didokumentasikan dan dibukukan dalam kamus, sedang yang dalam kenyataan tidak digunakan semisal jasyasya, diabaikan (Muhmal). Hasil kodifikasi Khalil berupa sebuah kamus al-‘Ain yang merupakan kamus pertama dalam sejarah bahasa Arab.
Menurut Ahmad Amin (1878-1954), terdapat tiga tahap kodifikasi bahasa Arab hingga lahir kamus-kamus bahasa Arab.
1. Tahap pertama adalah tahap kodifikasi non-sistemik. Pada tahap ini, seorang ahli bahasa biasa melakukan perjalanan menuju desa-desa. Lalu, ia mulai mencari data dengan cara mendengar secara langsung perkataan warga Badui yang kemudian ia catat di lembaran-lembaran tanpa menggunakan sistematika penulisan kamus.
2. Tahap kedua adalah tahap kodifikasi tematik. Pada tahap kedua, para ulama yang tengah mengumpulkan data mulai berfikir untuk menggunakan teknik penulisan secara tematis. Data terkumpul, mereka klasifikasikan menjadi buku atau kamus tematik.
3. Tahap ketiga adalah tahap kodifikasi sistematik. Pada tahap ketiga, penyusunan kamus mulai menggunakan sistematika penulisan yang lebih baik dan memudahkan para pemakai kamus dalam mencari makna kata yang ingin diketahui.

5. Tipologi Kamus-kamus Arab
Kamus dapat dibagi menjadi beberapa tipe berdasarkan kategori-kategori berikut:
1. Ditinjau dari segi tema
 • Kamus bahasa ( al-mu’jam al-lughawi ), yaitu kamus yang meliputi kata-kata atau istilah-istilah kebahasaan dengan menjelaskan secara bahasa, misalnya kamus al-munawwir karya Ahmad warson Munawwir, al-Kalali karya As’ad M. Al-Kalali, kamus Arab-Indonesia karya Muhammad Yunus, Mu’jam al-Musthalahat al-Lughawiyah karya Ba’labaki.
 • Kamus ensiklopedi (al-mu’jam al-mausu’i), yaitu kamus yang tidak hanya menyajikan peristilahan, tetapi juga dilengkapi dengan konsep dan penjelasan secara luas, misalnya al-‘Arabiyah al-Muyassarah karya Lembaga Kearaban, Amlaq al-Watd karya Ahmad al-Syarbasyi, Ensiklopedi Islam Departemen Agama RI dalam bahasa Indonesia, dan Ensiklopedi Islam karya Abdul Hafizh Anshari dan kawan-kawan dalam bahasa Indonesia.
 • Kamus historis (al-mu’jam al-tarikhi), yaitu kamus yang melacak asal dan perkembangan bahasa dari masa ke masa, misalnya kamus Maqayis al-Lughah karya Ibnu Faris, al-Muhith karya al-Fairuzabadi, Mustadrakat ‘ala al-Ma’ajim al-‘Arabiyah karya al-Namsawi dan A.F. Kremer.

2. Ditinjau dari segi jumlah bahasa yang digunakan
 • Kamus ekabahasa (al-mu’jam al-uhadi al-lughah), yaitu kamus yang menjelaskan makna atau istilah dalam suatu bahasa dengan bahasa itu. Denga kata lain kamus ini hanya menggunakan satu bahasa dalam menjelaskan makna, misalnya al-Munjid fi al-Lughah wa al-A’lam karya Louis Ma’luf, Lisan al-‘Arab Karya Ibnu Manzhur.
 • Kamus dwibahasa (al-mu’jam al-tsuna’i al-lughah), yaitu kamus yang menjelaskan makna kata atau istilah dengan bahasa lain. Bisa juga dikatakan sebagai kamus yang memberika padanan kata atau istilah dalam suatu bahasa dengan suatu bahasa lain, misalnya kamus al-munawwir karya Ahmad warson Munawwir, Qamus al-Tarbiyah Arabiyya-Injiliziyan karya al-Khuli, al-Kalali karya As’ad M. Al-Kalali.
 • Kamus multibahasa (al-mu’jam al-‘adid al-lughah), yaitu kamus yang menjelaskan makna kata-kata atau istilah dalam suatu bahasa dengan dua bahasa atau lebih, misalnya kamus Indonesia-Arab-Inggris karya Abdullah bin Nuh dan Omar Bakri, al-Mu’jam al-Falsafi karya Abd al-Mun’im al-Hifni.

3. Ditinjau dari segi materinya
 • Kamus umum (al-mu’jam al-‘am), yaitu kamus yang memuat segala macam kata dalam suatu bahasa, misalnya al-munawwir karya Ahmad warson Munawwir, al-Munjid fi al-Lughah wa al- A’lam karya Louis Ma’luf, Kamus Arab-Indonesia karya Mahmud Yunus.
 • Kamus khusus (al-mu’jam al-khash), yaitu kamus yang hanya memuat kata-kata atau istilah-istilah dalam bidang tertentu, misalnya Qamus al-Tarbiyah Arabiyya-Injiliziyan karya al-Khuli, Mu’jam Gharib al-Fiqh karya Muhammad Fu’ad “abd al-Baqi, Qamus ‘ilm al-Ijtima’ karya A.Z. Badawi.

4. Ditinjau dari segi susunannya
 • Kamus alfabetik (al-mu’jam al-faba’i), yaitu kamus yang memuat kata-kata atau istilah-istilah dengan maknanya secara alfabetik/abjad. Pada umumnya kamus disusun secara alfabetik dalam menjelaskan makna dari A sampai Z atau dari Alif sampai ya. Misalnya al-munawwir karya Ahmad warson Munawwir, al-Munjid fi al-Lughah wa al-A’lam karya Louis Ma’luf, Kamus Arab-Indonesia karya Mahmud Yunus, Qamus al-Tarbiyah Arabiyya-Injiliziyan karya al-Khuli, al-Kalali karya As’ad M. Al-Kalali.
 • Kamus tematik (al-mu’jam al-maudhuu’i), yaitu kamus yang memuat penjelasan kata-kata atau istilah-istilah secara lengkap berdasarkan tema tertentu, misalnya The Cultural Atlas of Islam karya Isma’il Raji al-Faruq dan Louis Lamya al-Faruqi yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesi oleh Ilyas Hasan menjadi Atlas Budaya Islam .


BAB III
PENUTUP

Kehadiran kamus menjadi sebuah keharusan dalam sebuah bahasa untuk mengembangkan makna, menghimpun kata, melestarikan bahasa, dan mewariskan peradaban yang dapat dikembangkan. Kebutuhan untuk kodifikasi bahasa dan hal-hal lain seperti kebutuhan untuk menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an, keinginan untuk menjaga eksistensi bahasa mereka dalam bentuk bahasa tulis, banyaknya buku-buku tafsir yang terbit pada masa awal kodifikasi al-Qur’an dan hadits tentang Gharaib (kata-kata asing), dan kemunculan ilmu-ilmu metodologis pertama dalam Islam menjadi faktor-faktor kemunculan mu’jam.
Tiga periode atau tiga tahap kodifikasi bahasa Arab hingga lahir kamus-kamus bahasa Arab dapat diidentifikasi yakni tahap kodifikasi non-sistemik, tahap kodifikasi tematik, dan tahap kodifikasi sistematik, dengan Khalil bin Ahmad al-Farahidi, guru Sibawaih sebagai guru bahasa Arab dan leksikolog paling awal dan mungkin terbesar. Khalil adalah ahli tata bahasa terbesar dan sastra abad kedua hijriyah yang menemukan, membuat teori, dan menetapkan mode ritmis puisi Arab dan menamainya. Kamusnya, al-‘Ain, kamus pertama kata Arab dan kitab tata bahasa (sintaks) dia mensurvei serta menemukan kata-kata dalam bahasa Arab serta menemukan 1.235.412 kata.
Metode pembuatan mu’jam dimulai dengan metode pendengaran (al-Sima’i), yaitu pengambilan riwayat oleh para ahli bahasa dengan cara mendengarkan langsung perkataan orang-orang Badui, hingga metode pendengaran bergeser ke metode analogi (Qiyas), yaitu pemaknaan kata dengan menggunakan teori-teori tertentu yang dibuat oleh para ahli bahasa. Sedangkan kamus Arab yang dihasilkan dapat dibagi ke beberapa kelompok, dengan ditinjau dari segi tema, jumlah bahasa yang digunakan, materi, dan susunannya.

DAFTAR ISI

Al-Jabiri, Muhammad Abed. 1989. Formasi Nalar Arab, terj. Imam Khoiri. 2003. Yogyakarta: IRCiSoD
Al-Khatib, Adnan, Al-Mu`jam al-`Arabi Bayna al-Madi wa al-Hadir, Kairo: Ma`had alBuhuth al-Arabiyah, Cairo, 1967.
Amin, Ahmad, Duha al-Islam, Juz 2, Kairo: Maktabah al-Nahdhah, 1956
Hijaz. Muhammad Fahmi, Usus Ilmu Lughah al-Arabiyah, al-Qahirah: Dar Assaqafah, 2003.
Hijazi, Mahmud Fahmi, Madkhal Ila `Ilm al-Lughah, Kairo: Dar al-Tsaqafah, 1978
Ya`qub, Emil, Al-Ma`ajim al-Lughawiyah al-`Arabiyah, Beirut: Dar al-Thaqafah alIslamiyah, 1981.
https://yazidhady.wordpress.com/2017/03/30/sejarah-ilmu-mujam
Blogger
Disqus

No comments